[Day 15] Bersama Lagi

Sunday, July 04, 2010

Catherine adalah anak sulung dari dua bersaudara. Saudara kandungnya bernama Chintya. Mereka awalnya berasal dari keluarga harmonis, namun, bunda dan ayah bercerai karena suatu masalah. Ayah membawa Catherine, Bunda membawa Chintya. Mereka berdua terpisahkan oleh jarak yang jauh. Catherine tinggal di San Jose, sedangkan Chintya tinggal di Beverly Hills. Walaupun masih satu negara, tapi jarak antara San Jose dan Beverly Hills agak jauh.

Pagi-pagi hari Sabtu...
"Ayah..," panggil Catherine lirih. "Iya?" jawab Ayah. "Ayah, aku ingin membicarakan sesuatu. Kenapa Ayah dan Bunda bercerai?" Catherine mulai berbicara. Ayahnya menghela nafas. "Catherine, kamu masih kecil. Mungkin kalau ayah jelaskan kamu tidak akan mengerti," jawab ayah. "Tapi, ayah, aku mohon. Aku mencintai bunda dan Chintya walaupun terpisahkan oleh jarak yang jauh." Catherine memohon. Matanya dikedipkan dan ia memasang wajah manis. Seperti boneka Susan. "Sudahlah, nak. Ayah dan bunda bercerai karena suatu masalah!" Ayah tampak geram. "Tapi, apakah ayah dan bunda bercerai karena ketidakcocokan?" Catherine bertanya lagi. Ayahnya diam saja, tetapi di dalam hati ayahnya menjawab "iya".

Suatu hari, Catherine diajak ayah jalan jalan ke sebuah pertokoan. Lalu, secara tak sengaja ayah menabrak seorang wanita yang nampaknya membawa seorang anak perempuan. "Maaf, saya sungguh tak sengaja, mari saya bantu!" Ayah menyodorkan tangannya. Wanita itu menerima bantuan ayah. Catherine menatap wajah anak perempuan di samping wanita itu, lalu terkejut. "Kok, dia mirip banget sama aku ya?" gumam Catherine. Anak perempuan yang dipikirkan Catherine tampaknya juga terkejut. "Kok, dia seperti aku ya? Wajahnya juga mirip," gumam anak itu. "Terima kasih ya." Wanita itu berterima kasih. Ayah terkejut. "Kamu.. kamu..." Ayah tergagap. Wanita yang tadi dibantunya menoleh. "Kenapa?" tanya wanita itu. "Engg.. tidak." Ayah dan Catherine berjalan menuju rumah.


"Ayah, lihat tidak anak perempuan yang dibawa wanita tadi? Sepertinya anak perempuan itu anaknya," tanya Catherine. "Iya, Rine. Wanita itu seperti bunda," jawab ayah. "Bunda!" pekik Catherine tidak percaya. "Oh iya, ayah. Anak perempuan yang dibawanya tadi seperti aku! Jangan-jangan... CHINTYA!!!" Catherine juga tidak percaya. Tiba-tiba, ayah mendengar suara telponnya berdering. Satu jam ayah mengobrol dengan seseorang yang menelponnya. "Nak, kabar baik! Bunda dan Chintya mau ke sini!" Catherine kegirangan.

Sorenya, bunda dan Chintya datang ke rumah Catherine. "David, ada yang mau kubicarakan," kata bunda. "Bicara apa, Jollie?" tanya Ayah. "Kita ke taman sekarang." Bunda dan Ayah berjalan menuju taman belakang. "Catherine!" "Chintya!! Waa!!!" "Oh iya, by the way bunda dan ayah mau bicara apa?" tanya Catherine. "Katanya mau membicarakan sesuatu. Aku juga enggak tahu mau bicara apa," jawab Chintya. Mereka diam-diam mengintip ayah dan bunda yang sedang membicarakan sesuatu.


"Apa? Kau bertemu denganku kemarin? Di kawasan pertokoan San Jose?" pekik ayah. "Iya, David. Aku akan membicarakan intinya." Bunda mengatur posisi duduknya. "Apa intiya?" tanya Ayah. "Bagaimana kalau kita menikah lagi?" tanya bunda. "Mengapa kamu berpikiran seperti itu, Jollie?" tanya Ayah. "Aku berkonsultasi dengan psikolog terkenal Beverly Hills. Katanya, perceraian bukanlah jalan yang baik. Apalagi kita punya dua anak. Mereka akan sedih, tidak mempunyai keluarga yang harmonis, apalagi aku memikirkan masa depan anak-anak kita," jelas bunda. "Betul juga kau, Jollie. Setelah kupikir-pikir, kita berdua memang cocok. Kita tampak seperti berputus asa saat bercerai," tambah ayah. "Nah, kita sudah mempunyai kesepakatan bulat bahwa kita akan berkeluarga kembali."




"Kau dengar itu semua, Chintya? Bunda dan ayah akan menikah lagi!" sorak Catherine. "Yes! Sudah maghrib, kita shalat dulu yuk!" ajak Chintya. "Ayo!" Catherine dan Chintya berjalan menuju mushola rumahnya.

Keesokan harinya, bunda dan ayah sah menjadi suami-istri. "Alhamdulillah, kita sudah punya keluarga harmonis lagi," kata Chintya mengucap kata syukur. "Iya, alhamdulillah. Semoga kita diberi kasih sayang lebih oleh bunda dan ayah," tambah Catherine. Berlanjutlah hari-hari yang menyenangkan untuk keluarga satu ini. Ayah dan Bunda memberi kasih sayang yang amat besar untuk kedua anak-anaknya.

~tamat~
 






You Might Also Like

0 comment(s)

If you want to comment my post, it's okay! But, you must remember:
NO spam and NO porn

My Recent Posts

    Subscribe me by Email