[Day 9] R, Anak Ber-phobia Sosial

Sunday, June 27, 2010

Kenalkan, namaku R. Aku ini salah satu dari sekian banyaknya penderita phobia sosial, yaitu phobia yang mengakibatkan seseorang takut pada lingkungan, tidak mau bicara, bahkan bisa kabur dari rumah. Tapi, aku masih punya sahabat walau cuma satu, yaitu Ashila. Dia bisa mengerti aku, mendukungku agar menjauhi phobia sosial yang dideritaku. Aku juga dianggap 'orang misterius' oleh orang-orang sekitarku, karena identitasku tersembunyi, walaupun aku menampakkan wajah, tapi mereka tak tahu identitasku, orang tuaku, padahal aku punya orang tua. Yang tahu hanya Ashila serta keluargaku.

Suatu hari, aku bertanya pada Ashila. "Shil, identitasku sudah ketahuan ya?" Ashila menjawab, "Tidak! Aku bisa menjaganya dengan baik!" Aku mengangguk-nganggukan kepala. "Kamu bisa menjawab, sebenarnya kamu itu siapa terhadap teman-teman? Teman-teman tahu kamu itu R, tapi mereka tak tahu siapa kamu," tanya Ashila. "Tidak bisa, Shil! Aku tidak bisa memberitahu mereka!" bantahku. "Lalu, hidup misterius seperti itu enak?" tanya Ashila lagi. "Ya, tapi tidak juga," jawabku. "Hmm... Kau harus berubah, R!" Ashila mengajakku untuk kembali ke kelas.

Keesokan harinya...
Saat istirahat, Bella dan Shafira menghampiriku yang sedang bercanda dengan Ashila. "Hei! Beritahu identitasmu, R!" Bella berkata itu tiba-tiba. "Tidak bisa" jawabku enteng. "Jangan sampai kamu membuka-buka buku absen bu Sinta ya!" kata Ashila lalu bercanda denganku lagi. "BUKU ABSEN BU SINTA! Kesempatan emas, Bel!" kata Shafira. "Benar! Aku akan membuka buku itu sepulang sekolah!"

Saat pulang sekolah, kelas rasanya sepi. Tapi, Bella dan Shafira masih di sini. "Bella, Fira, kenapa masih di sini?" tanyaku. "Lagi menunggu jemputan, R" jawab Bella bohong. "Sebentar lagi, aku dijemput mama. Mamaku lagi beli makanan, katanya antrian panjang," jawab Shafira berbohong. "Oh. Hey! Itu bunda!" Aku meninggalkan kelas. "Heh, sudah sepi nih! Gimana?" tanya Shafira. "Ayo!" Kedua anak itu langsung menuju meja guru dan mengambil buku absen bu Sinta. "R..R.. Ini dia! Yes!" sorak Bella dan Shafira, lalu pergi entah ke mana.

Keesokan harinya, beredar berita bahwa identitas R terungkap! Hah? R itu aku! Tidak! Pasti Bella dan Shafira mengumumkan ini! Apa yang harus kulakukan?
Aku berjalan lesu menuju bunda. "Bunda... Aku tak bisa menerima kenyataan ini..." kataku sambil menunjukan koran yang ada berita tentangku. "Sebaliknya, bunda sangat bisa menerima ini!" kata bunda. "Bunda.... Aku tidak mau identitasku terungkap. Aku lebih senang hidup misterius!" kataku sambil terisak. "Nak, bunda tahu yang melakukan ini, Bella dan Shafira, teman sekelasmu. Bunda berterimakasih dengan mereka. Kau harus lebih terbuka, R. Bunda dan Ayah sedih karena tak ada yang tahu orang-tuamu siapa. Akibat itu, bunda jadi tak bisa berkomunikasi. Terima ini, nak. Perbuatan Bella dan Shafira ini, tandanya mereka berdua mendukungmu. Kamu harus bebas dari phobia sosial!" jelas bunda. Aku tersenyum.

Besoknya di sekolah, dari kelas satu sampai kelas enam heboh dengan berita yang baru beredar. "Hei! Itu Randa, anak misterius!" celetuk Fandi. Aku tertawa. "Teman-teman, sekarang aku bukan R, anak misterius lagi! Aku ingin berteman!" ucapku. Teman-teman tersenyum bangga. Aku menghampiri Bella dan Shafira yang sedang berbicara dengan Ashila. "Bel, Fira, aku berterima kasih sekali!" Bella dan Shafira tersenyum, lalu, Bella, Shafira dan Ashila memelukku.

Pertanyaan dari admin.
*Apakah kalian betah hidup misterius? 

You Might Also Like

0 comment(s)

If you want to comment my post, it's okay! But, you must remember:
NO spam and NO porn

My Recent Posts

    Subscribe me by Email